Posted by: wonggendeng on: Desember 14, 2007
Mungkin setelah membaca tulisan ku yang ini anda kembali saya ajak untuk Ngedan bareng. Ngedan bukan berarti menjadi gila alias tidak waras alias gendeng alias gelo. Tapi Ngedan ini Ngedan kepadaNYA. Dalam artian menggilaiNYA dengan mencintaiNYA secara sungguh-sungguh.
Kita tidak menafikan bahwa kita mencintai pasangan kita, anak kita, saudara-saudara kita, ibu bapak kita, harta kita, atau apalah. Tapi tahukah bahwa cinta kita pada selainNYA adalah cinta semu. Merekapun yang kita cintai tidak benar-benar mencintai kita dengan cinta yang sebenarnya.
Jika kita meninggal dunia, istri, anak, sanak saudara yang kita cintai hanya bisa melayat sampai dikubur semata. Harta kita, mobil misalnya, hanya diparkiran pelataran kubur. Mereka tidak lagi mencintai jasad kita yang nantinya akan membusuk. Mereka tidak akan membantu kita dialam kubur.
Tapi, diriNYA, yang terkadang cinta kita kepadaNYA hanya secuil, masih saja mencintai mahlukNYA. Dalam susah maupun senang IA tetap saja ada untuk kita. Jika saja kita memohon kepadaNYA, niscaya kita akan senang selamanya didunia. Tapi kita sering melupakan cintaNYA kepada kita.
DIA pun tidak meminta balasan apapun kepada kita. IA begitu mencintai setiap mahluknya tanpa pamrih dan tidak mengharap balasan apapun dari kita. Apapun. Ya, apapun. Ibadah kita yang tiap saat kita lakukan hingga badan pegal-pegal, kaki lecet, kening membiru, takkan menambah kemuliaanNYA. DIA tetap mulia dihadapan mahlukNYA.
DIA hanya mengharapkan kita menaati perintahNYA dan menjauhi segala laranganNYA saja. Namun kita sering lalai dan kembali memuja selainNYA. Ibadah sholat yang menjadi tanda cinta kita kepadanya sering kita lalaikan. Berbagai alasan kita perbuat untuk melalaikan perintahnya. Seperti syair seorang kyahi di Jawa Tengah tentang kelalaian sholat:
Subuh kesiangan
Dhuhur kerepotan
Ashar diperjalanan
Maghrib kecapekan
Isya ketiduran
Syair diatas membuktikan bahwa kita lebih mencintai selainNYA. Sehingga melalaikan satu-satunya tanda bhawa kita mencintaiNYa. Marilah kita luruskan kembali Ngedan kita kepadaNYA agar memperoleh cintaNYA.
Mulailah menggilaiNya dengan mensyukuri setiap nikmatNya…udara yang kita hirup, panca indera tanpa cacat, keluarga yang menyayangi kita, rezeki yang selalu ada, bahkan sakit yang kita derita…Dia terlalu berharga untuk kita tinggalkan..
Ho o lagi suntuk
Kecapekaan kemaren diklat empat hari THL Penyuluh Pertanian…pulang-pulang dompet ketinggal di asrama, pas mau ambil di tengah jalan ketilang polisi gara-gara surat-suratku ada di dompet yang ketinggal…apes bgt…tapi tetep tak syukuri…mungkin duit tilangan itu emang bukan hak ku..moga2 Pak Pol nya bener-bener kirim uang itu ke kas negara yaa..gak ke perut mereka sendiri…
Desember 14, 2007 pada 5:08 pm
Subuh kesiangan, Dhuhur kerepotan,Ashar diperjalanan,Maghrib kecapekan,Isya ketiduran.
Untuk rajin Shalat, Apa perlu jadi pengangguran dulu ya..???